Our amazing new site will launch in

Minggu, 08 Januari 2012

First Love

Menyimak lagunya Eugene Wilde, First Love Never Dies yang dipopulerkan pada awal tahun 90an serasa kembali ke masa ABG. Pasalnya, kalau dihayati lirik lagunya, "We never really said goodbye.. We never really said its over" seolah menyatakan bahwa chemistry yang kita mulai zaman baheula ternyata tidaklah benar-benar pudar. Minimal ada 'serrrr nud' kalau bertemu kembali kata Wa Kepoh, sang pendongeng kawakan.

Mengingkari perasaan tersebut? Seandainya teman kita yang berkata begitu, tentunya bagi kita sebagai penonton tidaklah berarti banyak, "Sabodo teuing" kali. Namun toh kita bisa melihat sendiri dari gestur tubuhnya kadang menunjukkan ketidaktenangan seolah berusaha membantu menyembunyikan perasaannya saat melihat sang mantan alias popotongan.

Perasaan suka ataupun cinta tidaklah dapat disangkal lagi merupakan anugrah dari Sang Pencipta. Telah menjadi fitrah setiap manusia untuk saling menyukai di antara lawan jenis. Perasaan yang tumbuh di kala usia kita belum matang biasanya dibarengi dengan sikap 'kumaha engke, bagaimana nanti' yang penting dibuatlah tirai-tirai pelangi supaya hari demi hari berganti dengan satu jenis perasaan, indah dan indah.. Oleh karena itu penting sekali bagi orang tua untuk mengkomunikasikan fase tersebut kepada putra-putrinya supaya tidak terjerumus ke pada jurang yang menuju kehancuran masa depannya. Nah pada saat si anak bisa melewati fase itu dengan selamat, maka akan tersisa serpihan-serpihan memori yang cukup indah untuk dia kenang.

Kita manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah SWT, bahkan yang jejadiannya paling sempurna bahkan diberi amanat sebagai khalifah di muka bumi. Mungkin kita semua juga sudah mengetahui kita di dunia ini sudah berada di level 3 dari 5 level yang dia akan jalani, yaitu level 1 Alam Ruh, level 2 Alam Rahim atau dalam kandungan dan level 3 Alam Dunia ini. Saya yakin kita semua tidak ada yang bisa mengingat peristiwa-peristiwa di kedua alam sebelumnya, tidak seperti main game komputer atau PS yang sudah ngelotok di level 1 dan 2 (maklum pasti sering diulik sebelum naik level kan :)).

Kejadian di alam ruh walaupun tidak kita ingat bisa kita ketahui lewat ayatNya yaitu:

D a n ( i ngatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allahmengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Merekamenjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di harikiamat kamu tidak mengata- kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengahterhadap ini (keesaan Tuhan)",

( QS. Al A'raf 7:172 )

Pada saat itu, kita sebagai ruh, mengakui Allah sebagai Tuhan dengan penuh didasari kecintaan karena Allah juga menciptakan manusia dengan dasar cinta pula. Jadi teman, jadikan cinta pertama ini sebagai cinta yang abadi dalam hidup kita. Cinta kepada Allah sebagai platform cinta kepada yang lainnya, kepada istri, anak, orang tua dll agar cinta kepada makhluk tidak membutakan cinta kepada Allah SWT. Dan yang terpenting, kemanakah kita berpulang kawan selain ke haribaan Khaliq yang tercinta. Itulah idamkan kita semua, semoga tercapai. Amiin ya Rabbal 'Aalamiin.

Wallahu a'lam - Nyoba lagi nulis nih *tertantang*

Rabu, 04 Januari 2012

Dua Tahun Sekali

Menulis entri baru hmm sebetulnya bukan pekerjaan sulit bagi yang terbiasa tentunya. Kalau saya amati sekarang orang terbiasa langsung menuangkan apa yang ia alami atau ia rasakan dalam situs jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Sehingga untuk menulis sebuah tulisan beberapa paragraf menjadi sedikit 'malas' mungkin paling tidak itulah yang saya alami. Kenapa tulisan ini saya beri judul 'Dua Tahun Sekali' karena tulisan terakhir di blog ini adalah bulan Januari 2010. Masya Allah saya baru sadar sudah sekian lama..

Terpaksa atau tidak saya coba benahi blog ini, sedikit dilengkapi data-datanya. Juga tulisan yang sedang Anda baca ini tak lain sebagai penambah koleksi tulisan saya he he. Agak-agak ngelantur dan ngacapruk tetapi biarlah yang penting tertuang beberapa paragraf.. ayo ayo sedikit lagi (sudah mulai malas hufft..).

Ya akhirnya dengan dicapainya paragraf ketiga, saya coba tutup sajalah tulisan ini semoga jadi pelicin bagi tulisan-tulisan berikutnya tanpa harus menunggu satu atau dua tahun lagi. Teman-teman pembaca yang budiman nikmatilah teh hangatnya seraya senyum kecil saat membaca tulisan ini.

Salam,
ES

Selasa, 26 Januari 2010

Stabilitas Amal: Mungkinkah?

Fantastis 6 - 1! Demikian ketika saya sampai di rumah, orang-orang menghambur keluar untuk memberikan komentar. Ya, Persib memang menjadi idola masyarakat Bandung bahkan Jawa Barat. Jarang-jarang Persib menang besar. Dalam hati kecil juga saya merasa senang melihat orang-orang bergembira termasuk si sulung pecandu sepakbola atawa futsal. Persib masih belum stabil komentar beberapa pengamat. Ketakstabilan tersebut berbuah pada posisi Persib yang hanya mangkal di posisi tengah, bahkan pada awal kompetisi sempat berada di papan bawah.

Stabil dalam hal prestasi apakah prestasi kerja atau akademis adalah nilai standar yang minimal. Ketika Persib bisa menang telak maka ke depannya mereka akan dituntut untuk bisa tetap seperti itu. Dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya kita memiliki target harian minimal dalam benak kita. Saya hari ini harus bisa mencapai ini, itu dsb.

Dalam konteks amal ibadah seorang muslim harus lebih baik daripada hari sebelumnya. Seandainya hari ini sama dengan sebelumnya maka sudah dikatakan merugi. Kenapa? Ya karena faktor waktu yang tidak ada remedial meminjam istilah akademis. Waduh bagaimana padahal ada sinyalemen bahwa iman seorang manusia itu kadang bertambah kadang berkurang, yaziidu wa yankusu, dalil yang jadi pembenaran di kala kita sedang futur (malas). Padahal lengkapnya seharusnya adalah al-immanu yaziidu bit-to'ah wa yankusu bil-ma'siyah yang artinya iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiyat.

Tuh kan benar ada tips biar iman kita selalu meningkat yaitu dengan selalu melaksanakan ketaatan. Atuh gimana kan lagi males. Salah satu tips terkait agar selalu istiqomah dalam beramal adalah kerjakan amal itu sedikit-sedikit dahulu kemudian meningkat perlahan kualitas dan kuantitasnya jangan langsung breeg trus ilang. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kamu sendiri yang bosan demikian kata ulama.

Kembali ke pertanyaan di atas apakah stabilitas amal itu mungkin? Jawabannya adalah mungkin, bahkan sangat mungkin. Berlindunglah kepadaNya. Ukurlah amal-amalmu setiap malam, haasibuu anfusahum qobla antuhaasabuu, hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab di yaumil akhir nanti. Hisab itu untuk mengukur kemampuan diri, oh hari ini aku baru bisa sholat Tahajud 2 rakaat, baru bisa tilawah 1 halaman... ya lakukan terus jangan dahulu ditambah sampai kamu benar-benar merasa enjoy. Baru setelah nyaman tingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Sederhana bukan, tinggal praktiknya saja ya. Mari sama-sama tingkatkan amal ibadah kita dan ciptakan stabilitas kualitas amal ibadah kita.

Wallaahu a'lam.

Antapani, 27 Januari 2010

Serat Simkuring

About Me

Foto Saya
Saya lahir di Bandung, sekolah di Bandung, kerja di Bandung walaupun sempat keluar Bandung bahkan mengikuti proyek di luar Bandung tetapi saat ini bekerja di Bandung juga. Saya mencintai keluarga saya. Mereka adalah sumber energi bagi segenap aktivitas saya, tentunya semua saya coba dasarkan sebagai ibadah kepada Rabbul Izzati. Harapan saya semoga saya diberi kekuatan istiqomah.
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Pengikut